Selasa, 25 Februari 2014

Realita abstrak

Hmm

Entah bagaimana faktanya bisa terjadi, yang harus aku lakukan adalah menerima, walau tak ku pinta.
Seperti kado.
Begitu rapi dibungkus.
Begitu cantik isinya.
Sayangnya,
Kado ini hanya untuk dipajang, bukan dipakai.

Ada pengamat, namun tak ku biarkan menganalisa.
Karena kado ini bukan untuk dipublikasikan.
Dan para tamu tak kan ku biarkan paham.
Bahkan kupu-kupu, sang indikator, pun terkulai lemas, seperti kehilangan hisapan di putik-putik.
Terlalu menyakitkan, bila makhluk secantiknya menyumbang air mata.

Biarkan ini jadi lukisan abstrak.
Cukup aku yang mampu baca alurnya.

Sementara ada satu sisi dimana aku harus meredam panjang semua nada.
Entah itu dengan notasi suka atau duka.
Yang ku lakukan hanya menekan tombol 'mute' untuk waktu yang belum ku tentukan.
Aku hanya memilih diam, berdamai.

Mungkin ini akan menjadi sesuatu yang harus aku lepaskan, ikhlaskan. (Lagi).

Selasa, 04 Februari 2014

Who are you?

Boleh bilang rindu?
(Tak apalah)
Aku sekedar mengadu
Padamu yang masih ku tunggu

Ku titipkan pada kupu-kupu
Salam rindu yang tertuju
Sementara aku menunggu
Di ujung bangku
Sambil menggigit kuku
Aku tak ingin luput dan berlalu
Tanpa aku tau, siapakah kamu.