Aku rabun melihatmu
dan kaupun menjadi samar dalam mataku
Yang aku lupa adalah
bagaimana aku bisa lupa
bagaimana aku bisa ingatkan
Yang aku ingat adalah
hanya sederet nama
hanya sebatas jengkal
Aku kehilangan ingatan tentang sebuah wajah, maaf
Selasa, 19 Maret 2013
Kamis, 14 Maret 2013
aren't we?
Saling tahu kabar tanpa saling mengabari.
Saling menyayangi dengan diam dan mulut terkunci.
Saling melengkapi namun tiada yang mau mengerti.
Sama-sama lelah menunggu namun ego tetap memburu.
Sama-sama memikirkan namun saling mengabaikan.
Sama-sama rindu tapi berusaha tak cemburu.
Sama-sama butuh namun sok-sok angkuh.
Saling sayang tapi dijadikan layang-layang.
Saling cinta tapi jarang bercerita.
Kita kah?
Saling menyayangi dengan diam dan mulut terkunci.
Saling melengkapi namun tiada yang mau mengerti.
Sama-sama lelah menunggu namun ego tetap memburu.
Sama-sama memikirkan namun saling mengabaikan.
Sama-sama rindu tapi berusaha tak cemburu.
Sama-sama butuh namun sok-sok angkuh.
Saling sayang tapi dijadikan layang-layang.
Saling cinta tapi jarang bercerita.
Kita kah?
Minggu, 10 Maret 2013
mendung
Entahlah, apa yang sebenarnya harus aku adu kan pada Mu Tuhan
Kali ini, Aku mungkin tak bisa secerewet biasanya
Aku terlalu malu mengungkap dosa-dosaku
Untuk semua tetes air mata yang aku sembunyikan
Aku rebahkan hatiku yang gelap di sisi terindahMu
Biar Engkau yang langsung menatanya
Aku akui, aku yang tak mengikuti aturan Mu
Aku salah besar
Aku salah lebih besar lagi
Hatiku terlalu angkuh menerima hidayah Mu
Aku mungkin masih belum menemukan jalan terang Tuhan
Beri aku pertandanya
Aku masih di bias-bias mendung di mana hujan tak jadi berkunjung
Aku masih berselimut kidung dibalik kerudung
Aku tak siap berkabung
Aku redup karena dosa-dosaku
Kali ini, Aku mungkin tak bisa secerewet biasanya
Aku terlalu malu mengungkap dosa-dosaku
Untuk semua tetes air mata yang aku sembunyikan
Aku rebahkan hatiku yang gelap di sisi terindahMu
Biar Engkau yang langsung menatanya
Aku akui, aku yang tak mengikuti aturan Mu
Aku salah besar
Aku salah lebih besar lagi
Hatiku terlalu angkuh menerima hidayah Mu
Aku mungkin masih belum menemukan jalan terang Tuhan
Beri aku pertandanya
Aku masih di bias-bias mendung di mana hujan tak jadi berkunjung
Aku masih berselimut kidung dibalik kerudung
Aku tak siap berkabung
Aku redup karena dosa-dosaku
Senin, 04 Maret 2013
4 tahun 6 bulan :)
Ilmu, cita, cinta, berita disampaikan lewat cerita
Lika-liku perjalanan cerita dibiaskan oleh senyum, tawa bahkan luka
Yang terjadi sekarang waktu lebih cepat beranjak dewasa dari yang dibayangkan
Ada rindu terselip ketika ilmu, ceita, cinta dan berita itu diputar ulang
Sekarang, sudah ada bukti-bukti otentik yang membuat kita harus saling melepaskan genggaman
Merantau atau Menepi di tepi laut, itu pilihan
Tinggal lagi bagaimana berbagi ilmu, cita, cinta dan cerita disana
warna-warni sekali kehidupan ini :)
Lika-liku perjalanan cerita dibiaskan oleh senyum, tawa bahkan luka
Yang terjadi sekarang waktu lebih cepat beranjak dewasa dari yang dibayangkan
Ada rindu terselip ketika ilmu, ceita, cinta dan berita itu diputar ulang
Sekarang, sudah ada bukti-bukti otentik yang membuat kita harus saling melepaskan genggaman
Merantau atau Menepi di tepi laut, itu pilihan
Tinggal lagi bagaimana berbagi ilmu, cita, cinta dan cerita disana
warna-warni sekali kehidupan ini :)
Minggu, 27 Januari 2013
not my style
kamu lucu!
bisa membuat saya senyum, tertawa bahkan terbahak.
gaya bicaramu menunjukkan kepolosanmu.
menyerupai orang dewasa salah arah.
lucu sekali.
kamu lucu!
lebih lucu dari kucing-kucingku yang mati.
tingkahmu tidak lebih imut dari suaramu.
hahaha, aku tertawa kan?
lihat itu!
mukamu seperti lenong, tebal sekali topengnya.
lenong versi udang dibalik batu.
cara kamu memegang pisau itu,
mau mengupas bawang atau memecah tulang?
KAMU LUCU!!!
bisa membuat saya senyum, tertawa bahkan terbahak.
gaya bicaramu menunjukkan kepolosanmu.
menyerupai orang dewasa salah arah.
lucu sekali.
kamu lucu!
lebih lucu dari kucing-kucingku yang mati.
tingkahmu tidak lebih imut dari suaramu.
hahaha, aku tertawa kan?
lihat itu!
mukamu seperti lenong, tebal sekali topengnya.
lenong versi udang dibalik batu.
cara kamu memegang pisau itu,
mau mengupas bawang atau memecah tulang?
KAMU LUCU!!!
Filosofi kotor dari mulut sampah
"mulutmu, harimaumu"
kalimat singkat nan tepat untuk diucapkan sebagai cambuk bagi para empunya.
salah-salah ucap, "cambuk"nya akan jadi "senjata makan tuan."
ucapan juga bukan layangan lho..
bisa ditarik ulur yang ujung-ujungnya putus di udara, kamu mau??
"lidah lebih tajam dari pedang"
benar! seseorang bisa mati ucapan hingga mati badan karena ketajaman lidah.
makanya, sebelum ngebuat orang mati beneran,
sensor suaranya dikirim dulu ke otak, difikirin dulu, bisa sakit ga orang lain dengernya??
jangan sampai deh makhluk berakal ngeluarin "filosofi kotor dari mulut sampah"
sedangkan semua udah tau "kebersihan sebagian dari iman"
:)
kalimat singkat nan tepat untuk diucapkan sebagai cambuk bagi para empunya.
salah-salah ucap, "cambuk"nya akan jadi "senjata makan tuan."
ucapan juga bukan layangan lho..
bisa ditarik ulur yang ujung-ujungnya putus di udara, kamu mau??
"lidah lebih tajam dari pedang"
benar! seseorang bisa mati ucapan hingga mati badan karena ketajaman lidah.
makanya, sebelum ngebuat orang mati beneran,
sensor suaranya dikirim dulu ke otak, difikirin dulu, bisa sakit ga orang lain dengernya??
jangan sampai deh makhluk berakal ngeluarin "filosofi kotor dari mulut sampah"
sedangkan semua udah tau "kebersihan sebagian dari iman"
:)
Kamis, 17 Januari 2013
gagalmoral!
dunia kita kaya raya, maka munculah berbagai pilihan sesuai yang kita butuhkan.
berbagai hal yang diinginkan tentu dapat dipenuhi oleh dunia, alam memang benar-benar baik.
lalu kenapa kita tidak tahu diri? bukankah di jenjang dasar tahap pendidikan kita diajarkan moral?
hmm.. kadang-kadang keserakahan masih jadi 'idola' yang berakal.
okelah kalau makhluk yang tak berakal, -menurut saya- mereka wajar-wajar saja kalau serakah,
masalahnya sekarang, yang melakukan keserakahan adalah makhluk berakal,
nah, jadi si makhluk berakal mau nih disatutingkatkan dengan makhluk tidak berakal?
kembali lagi ke falsafah awalnya, moralnya kemana?
berbagai hal yang diinginkan tentu dapat dipenuhi oleh dunia, alam memang benar-benar baik.
lalu kenapa kita tidak tahu diri? bukankah di jenjang dasar tahap pendidikan kita diajarkan moral?
hmm.. kadang-kadang keserakahan masih jadi 'idola' yang berakal.
okelah kalau makhluk yang tak berakal, -menurut saya- mereka wajar-wajar saja kalau serakah,
masalahnya sekarang, yang melakukan keserakahan adalah makhluk berakal,
nah, jadi si makhluk berakal mau nih disatutingkatkan dengan makhluk tidak berakal?
kembali lagi ke falsafah awalnya, moralnya kemana?
Langganan:
Postingan (Atom)